seperti malam malam biasanya,,
malam dengan perang sorot lampu motor dan mobil
lengkap dengan partikel partikel debu yang diterbangkan oleh keramaian jalanan malam ini
disebuah pinggir jalan, tepat didepan ku,,
ada seorang pedagang kaki lima lengkap dengan gerobaknya, dan deretan kembang api yang dipajang memenuhi isi gerobak,,
kalau boleh menebak, pemuda itu masih berumur 16-17 tahun,,
wajahnya layu, debu dan keringat menyatu dalam wajah mudanya
bajunya berdebu,dan sepertinya terpanggang matahari
sepetinya dia sudah lama ada disitu
menanti ada seorang pembeli
berharap, ada yang memarkirkan motornya didepan dia, dan membeli 1 bungkus kembang apinya
yaaa,,, setidaknya menawar,,itu sedikit menghibur hatinya, paling tidak masih ada yang berminat dengan dagangannya,,
lamaa sudah,,
menit demi menit
jam demi jam..
dari duduk bersila sampai jongkok
dari berdiri mematung sampai hilir mudik disekitar gerobaknya
tak ada satu orangpun yang menghampirinya
dari sekian banyak motor yang berlalu lalang didepannya, tak ada satupun yang berhenti didepannya
sebuah mobil mewah berhenti tepat disebelah gerobaknya
sipemuda melihat setiap lekuk mobil itu,,
dari atas sampai bawah
dari samping ke samping
"bagus bener ini mobil, kapan ya punya mobil seperti ini.." begitu yang aku tangkap dari mimik wajahnya
seorang wanita keluar dari mobil,
kontras sekali dengan si pemuda kembang api ini..
wajahnya segar, tak sedikitpun debu menempel dipipinya
Gayanya seperti wanita metropolitan masa kini,,
si wanita memasuki sebuah klinik gigi,,
sebuah tempat, yang rasanya tak mungkin untuk dikunjungi oleh si kembang api
"jangankan untuk bayar dokter gigi
untuk makan saja, aku harus menunggu pembeli seharian dipinggir jalan ini,,
itu saja belum tentu ada orang yang mau membeli kembang api, menawar saja tidak ada..."
lagi lagi aku membaca ekspresi wajahnya..
alam sadar mengembalikan si pemuda pada kembang apinya yang tak kunjung terjual..
kembali dia merapikan dagangannya yang sebenarnya masih tertata rapi
**
Kembang api ini bener bener seperti dua sisi mata uang yang amat sangat berbeda
bersisian, tapi sangat berbeda
satu sisi, dia harus menjualnya demi sesuap nasi, harus bersahabat dengan panas matahari dan debu jalanan
demi mendapat selembar kertas
satu sisi, dengan gampangnya dia membakar uang demi kesenangan yang fana..
larut dalam "keindahan" dan "kecantikan" si kembang api..
selembar kertas tak berarti baginya, satu dua tiga lembar, masih tidak berarti,,
melihat kesabaran si pemuda kembang api
aku jadi malu
mungkin usahanya tidak terlihat begitu keras
cukup dari wajahnya aku belajar kesabaran
dengan sabarnya dia menanti dan menjemputnya datanngnya rejeki dengan peluh keringat,debu dan terik matahari,,
sementara aku,,
seperti ini saja aku tidak sabar menanti buah dari usaha usaha selama ini
astagfirulloh,,,
betapa kurang bersyukurnya aku, manusia yang tak pernah puas,,
nikmat mana yang kau dustakan,,
alhamdulillah ya alloh,,
nikmatmu ini tak kan bisa aku tulis dengan tinta air laut sekalipun,,
alhamdulillah,,
***
maafkan karena selalu terpuruk dalam kenestapaan
maafkan karena ketidaksabaran menanti buah kerja keras selama ini
maafkan karena sempat terlintas, meragukan keadilanmu
maafkan atas keraguan kasih sayangmu
orang yang bersungguh sungguh insyalloh akan sukses
dan orang yang yang sabar, dia akan beruntung
Man jadda Wajada
Man Shabara Zhafira
malam dengan perang sorot lampu motor dan mobil
lengkap dengan partikel partikel debu yang diterbangkan oleh keramaian jalanan malam ini
disebuah pinggir jalan, tepat didepan ku,,
ada seorang pedagang kaki lima lengkap dengan gerobaknya, dan deretan kembang api yang dipajang memenuhi isi gerobak,,
kalau boleh menebak, pemuda itu masih berumur 16-17 tahun,,
wajahnya layu, debu dan keringat menyatu dalam wajah mudanya
bajunya berdebu,dan sepertinya terpanggang matahari
sepetinya dia sudah lama ada disitu
menanti ada seorang pembeli
berharap, ada yang memarkirkan motornya didepan dia, dan membeli 1 bungkus kembang apinya
yaaa,,, setidaknya menawar,,itu sedikit menghibur hatinya, paling tidak masih ada yang berminat dengan dagangannya,,
lamaa sudah,,
menit demi menit
jam demi jam..
dari duduk bersila sampai jongkok
dari berdiri mematung sampai hilir mudik disekitar gerobaknya
tak ada satu orangpun yang menghampirinya
dari sekian banyak motor yang berlalu lalang didepannya, tak ada satupun yang berhenti didepannya
sebuah mobil mewah berhenti tepat disebelah gerobaknya
sipemuda melihat setiap lekuk mobil itu,,
dari atas sampai bawah
dari samping ke samping
"bagus bener ini mobil, kapan ya punya mobil seperti ini.." begitu yang aku tangkap dari mimik wajahnya
seorang wanita keluar dari mobil,
kontras sekali dengan si pemuda kembang api ini..
wajahnya segar, tak sedikitpun debu menempel dipipinya
Gayanya seperti wanita metropolitan masa kini,,
si wanita memasuki sebuah klinik gigi,,
sebuah tempat, yang rasanya tak mungkin untuk dikunjungi oleh si kembang api
"jangankan untuk bayar dokter gigi
untuk makan saja, aku harus menunggu pembeli seharian dipinggir jalan ini,,
itu saja belum tentu ada orang yang mau membeli kembang api, menawar saja tidak ada..."
lagi lagi aku membaca ekspresi wajahnya..
alam sadar mengembalikan si pemuda pada kembang apinya yang tak kunjung terjual..
kembali dia merapikan dagangannya yang sebenarnya masih tertata rapi
**
Kembang api ini bener bener seperti dua sisi mata uang yang amat sangat berbeda
bersisian, tapi sangat berbeda
satu sisi, dia harus menjualnya demi sesuap nasi, harus bersahabat dengan panas matahari dan debu jalanan
demi mendapat selembar kertas
satu sisi, dengan gampangnya dia membakar uang demi kesenangan yang fana..
larut dalam "keindahan" dan "kecantikan" si kembang api..
selembar kertas tak berarti baginya, satu dua tiga lembar, masih tidak berarti,,
melihat kesabaran si pemuda kembang api
aku jadi malu
mungkin usahanya tidak terlihat begitu keras
cukup dari wajahnya aku belajar kesabaran
dengan sabarnya dia menanti dan menjemputnya datanngnya rejeki dengan peluh keringat,debu dan terik matahari,,
sementara aku,,
seperti ini saja aku tidak sabar menanti buah dari usaha usaha selama ini
astagfirulloh,,,
betapa kurang bersyukurnya aku, manusia yang tak pernah puas,,
nikmat mana yang kau dustakan,,
alhamdulillah ya alloh,,
nikmatmu ini tak kan bisa aku tulis dengan tinta air laut sekalipun,,
alhamdulillah,,
***
maafkan karena selalu terpuruk dalam kenestapaan
maafkan karena ketidaksabaran menanti buah kerja keras selama ini
maafkan karena sempat terlintas, meragukan keadilanmu
maafkan atas keraguan kasih sayangmu
orang yang bersungguh sungguh insyalloh akan sukses
dan orang yang yang sabar, dia akan beruntung
Man jadda Wajada
Man Shabara Zhafira
Tidak ada komentar:
Posting Komentar